Liverpool and me

Liverpool juara liga inggris setelah 30 tahun menunggu. Usai sudah ejekan “next year” yang biasanya disematkan pada mereka di akhir musim. Ya, biasanya Liverpool mengakhiri musim dengan kenangan hampir juara dan coba lagi tahun depan dan depannya dan depannya lagi. Dan saat ini, tahun inilah tahun depan yang dinanti itu akhirnya kejadian. Berkat Jurgen Klopp, berkat trio Firmansah, Firmino, Mane, Salah, berkat Van Dijk dan Alisson di belakang, juga duo bek sayap yang penuh energi, Alexander-Arnold dan Robertson. Juga pemain-pemain lainnya tentunya, yang bergantian dan konsisten tampil bagus selama semusin (musim kemaren juga sebenarnya). Tapi, gak ada Steven Gerrard…

Sebagai pemuja setan merah, Liverpool juara sih masih okelah. Mungkin karena kelamaan mereka gak juara kali ya? Nek saya kok mending Liverpool deh, daripada City atau Arsenal terutama. Ya, Arsenal.., kenapa ya? Mungkin karena ketika sedang semangat-semangatnya merhatiin bola, bertahun-tahun silam, saat itu saingan utama setan merah cabang inggris ya arsenal…

Seperti saya bilang tadi, saya ini pemuja setan merah, dua sekaligus. Cabang italia dan cabang inggris. Di Liga Inggris, tiap tahun saya selalu mbelain Manchester United. Tapi sebenarnya, Diavolo Rosso alias AC Milan adalah tim utama yang saya dukung… Ah, kau pasti tahu kan kalau dalam nonton balbalan itu biar nikmat maka hendaknya setiap orang punya tim untuk didukung, biar ada greget, biar bisa degdegan, atau ya biar ada yang dipertaruhkan secara sosial. Nek tim yang kita dukung menang kan kepuasannya bisa kepuasan psikologis sekaligus kepuasan sosiologis…

Ngomongin soal AC Milan, sudah hampir sepuluh tahun belakangan tim ini konsisten menjadi tim papan tengah di Italia. Ya, setidaknya menjadi pendukung AC Milan ini saya jadi tahu makna dari ungkapan legendaris yang sering diposting orang di media sosial : “Bahagia Itu Sederhana”. Lha iya ges, menjadi pendukung Milan itu bahagia memang sederhana, cukup bisa menang sama Lecce saja saya sudah cukup senang, gak perlu muluk-muluk jadi juara Liga Champions.., itu terlalu mewah…

Kembali ke Liverpool. Kalau konteksnya adalah AC Milan, maka Liverpool adalah ingatan tentang kejadian menjengkelkan yang tidak akan terlupa. Final Liga Champions tahun 2005 di Istambul. Kita sudah unggul 3-0 dengan gagahnya di babak pertama, lalu di pertengahan babak kedua sundulan Gerrard memperkecil skor dan beberapa menit kemudian skor sudah 3-3. Tendangan Shevchenko didepan gawang diblok Dudek, lanjut adu penalti dan Liverpool yang juara. Itu momen yang sangat menyebalkan, walau dua tahun kemudian kompetisi yang sama, Milan berhasil membalas ngalahin Liverpool di final…

Forza Ole!!!

2 respons untuk ‘Liverpool and me

Add yours

  1. Musuhku ternyata… hahahaha saya Liverpudlian sejak dulu dan sampai sekarang masih tetap YNWA.

    Pokoke kalau sama MU, saya musuh tenan… wakakakakaka…

Tinggalkan Balasan ke Lovely Bogor Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: