Koran Jum’at

Jumat kemaren, bersama seorang teman kantor saya membeli koran yang dijual secara ngasong di sebuah bangjo. Bangjo adalah bentuk singkat dari abang ijo, itu bahasa jawa artinya merah dan hijau. Di tempat saya, biasa digunakan untuk menyebut lampu lalu lintas yang warnanya merah kuning dan hijau.

Eh, yang beli koran tadi bukan saya ding, tapi teman saya, wong pake duit dia, tapi kemudian yang memanfaatkan koran itu memang kami berdua…

Ya, koran itu dimanfaatkan, bukan dibaca. Tanpa mengurangi rasa hormat pada segenap pihak yang terlibat dalam pencetakan koran tersebut, memang begitulah kemaren.

Jadi, saat itu kami sedang ada dinas ke luar kota. Teman saya itu membeli  koran dengan tujuan hendak dijadikan alas buat sholat jumat. Dalam pelaksanaannya koran tersebut kemudian dibagi jadi dua, satu buat dia dan satu buat saya..

Jumatan di era covid anda memang diharapkan untuk membawa alas atau sajadah sendiri, setidaknya begitulah yang disampaikan di pengumuman di instansi yang kami datangi pagi sebelumnya.

Lha kita kan gak siap sajadah, maka kebutuhan akan sebuah alas jadi cukup mendesak ketika itu, dan koran adalah salah satu pilihan. Selain (menurut kami saat itu) sesuai dengan protokol covid, koran juga bermanfaat buat jaga-jaga kalau misal nantinya kita gak dapat tempat di masjid. Ya kalau ada alas koran kan bisalah ikut jumatan di luar..

Untungnya kami tiba di masjid yang berada di sebuah rest area di tol Semarang-Solo pada saat adzan belum dikumandangkan, jadi kami tak perlu gelar koran di luar. Suhu saya dicek, 36.5 lalu ambil wudhu, pake masker lagi dan masuk masjid, gelar koran tak lupa jaga jarak…

Kembali ke koran,

Jadi ya.., tugas dan fungsi utama dari dicetaknya koran adalah memang untuk dibaca, sebagai sumber informasi…

Tapi ges, selain tugas dan fungsi utama tadi, sebuah koran juga bisa berfungsi untuk berbagai hal, misal buat kipas-kipas kalau kita merasa gerah. Bisa juga buat bungkus, mulai dari bungkus makanan, bungkus kado, bungkus paket dan lain sebagainya.

Lha, yang namanya kenyataan kan memang gitu kan ya ges? Tidak semua bisa berperan sesuai dengan yang dicita-citakan.

Dalam kondisi ideal, koran itu ya dibaca dan kadang difungsikan sebagai alas kalau sudah jadi koran bekas. Tapi kadang kan situasi itu tidak selalu ideal, ada juga saat darurat, ada situasi yang menuntut untuk jadi fleksibel, bisa jadi ini bisa jadi itu…

Akhirnya, karena sudah diinjak-injak, juga sempat kena tangan yang basah habis wudhu dan bisa jadi dianggap sebagai benda infeksius maka koran tersebut saya untel-untel dan berakhir di tempat sampah…

“Gak apa-apa mas.., dia dapat pahala kok” itu temen saya berkata sambil tertawa ketika saya menyinggung bagaimana kami memperlakukan koran tidak sebagai fungsi utamanya.

3 respons untuk ‘Koran Jum’at

Add yours

  1. Ya mumpung masih ada mas, tidak apa-apa dimanfaatkan untuk keperluan apapun selama baik. Nanti mungkin koran kertas sudah tidak ada lagi, diganti dengan e-koran yang dibaca di gadget masing-masing.

  2. Kalau emang suka baca, koran yang dijadikan alas bisa jadi bahan bacaan juga to, Mas? Tinggal posisikan saja dengan benar. Kalau miring ada kemungkinan bakal tengeng. 😀

Tinggalkan Balasan ke morishige Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: