Tentang Sepeda: Tren, Momentum dan Cerita

Dahulu kala, di kantor saya yang lama, pada mulanya hanya beberapa teman saja yang suka sepedaan, sekitar dua atau tiga orang. Lalu mereka sering bercerita tentang nikmatnya bersepeda, juga pamer spek sepeda, pamer kostum sepeda, cerita tentang asyiknya rute yang ditempuh, juga nikmatnya mampir makan di warung dan lain sebagainya. Makin hari makin banyak yang ikut komunitas tersebut, orang-orang pada beli sepeda, bikin kaos seragam dan acara sepedaan rutin pada saat hari libur.

Saya gak ikutan, sama seperti kalau sedang musim seneng mancing, tiap ada kesempatan libur mereka pada mancing. Seingat saya, baru dua kali saya ikutan mancing, itupun yang sekali dalam konteks syukuran, ada yang beli ikan trus dicemplungin di kolam, dipancing bersama-sama trus sebagian digoreng buat makan siang. Waktu itu status saya masih sebagai anak kos sehingga motivasi utamanya ya.., makan siang gratis.

Satu-satunya kegiatan rutin yang saya ikut ya cuman futsal. Lha memang saya suka sepakbola. Dan sialnya, orang-orang yang main futsal dan yang mancing atau sepedaan itu orangnya ya itu-itu juga. Artinya, kalau mereka sedang suka sepedaan, ya futsalannya jadi sering libur…

Kemudian..,

Saat ini, di kantor yang sekarang, kegiatan non kerja yang dengan sukarela saya ikuti juga cumak futsal, itupun beberapa waktu belakangan sudah sangat jarang. Orang-orang mah memang gitu, sukanya musiman, kadang seneng sepedaan, kadang seneng entahlah.

Gak ada salahnya juga sih, suka-suka mereka, juga suka-suka saya untuk ikut maupun gak ikutan…

Untuk sepedaan, sebagaimana yang terjadi di seluruh dunia, saat ini orang-orang sekitar saya juga sedang dan masih dalam suasana demam mainan sepeda, gak hanya temen kantor, juga tetangga, juga sodara, juga temen di grup-grup WA, tiap pagi ada saja yang posting berucap salam “selamat pagi dan jangan lupa bahagia” dengan tak lupa memejeng foto sedang bersepeda. Sepedanya brompton…

Demikianlah itu…

Pandemi corona memang telah memicu maraknya tren bersepeda. Demam sepeda yang katanya terjadi di seluruh dunia, sebenarnya bisa jadi momentum untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi yang sehat, bukan hanya bagi pengendaranya tapi juga bagi alam. Lha iya, yang namanya transportasi tanpa bahan bakar ya jelas baik bagi alam, bebas polusi dan hemat penggunaan bahan bakar. Di beberapa kota di dunia kabarnya (menurut artikel ini) sudah melakukan penataan serius dengan membangun ratusan kilometer tambahan jalur sepeda baru serta menerapkan kebijakan jalur slow speed dengan menutup beberapa ruas jalan kendaraan bermotor dan mengubahnya menjadi pedestrian.

Lha..,

Soal sepeda sebagai sarana transportasi, saya juga pernah melakukannya. Dulu.., saya memakai sepeda bukan hanya sebagai sarana berolahraga tapi sebagai alat transportasi utama. Itu terjadi saat saya SMP, selama tiga tahun di era 90-an tiap pagi dan siang saya bersepeda sejauh kurang lebih tujuh kilometer. Ya, setidaknya saya bisa sedikit menyombongkan diri sebagai pesepeda senior…

Hanya tiga tahun sih, karena setelah masuk SMA jadi gak pernah naik sepeda lagi ketika berangkat dan pulang sekolah. Saya memilih untuk nebeng temen yang pake motor. Tiap pagi saya nongkrong dipinggir jalan menunggu temen yang pake motor, siapapun yang pertama lewat dan masih kosong boncengannya akan saya tebengi. Alhamdulillah, banyak teman saya yang baik hatinya.

Hal menguntungkan yang diperoleh bila kita tidak memakai transportasi pribadi saat sekolah adalah apabila tiba-tiba kita merasa bosan di sekolah dan timbul keinginan untuk refreshing ke luar gedung sekolah. Kata yang lebih simpel: pengen mbolos, maka kita tinggal keluar dari sekolah dengan cara mlipir pada saat jam istirahat atau kalau pas tidak bisa mlipir dan mau sedikit ekstrem ya melompati pagar. Acara kabur kan jadi lebih nyaman kalau kita tidak meninggalkan kendaraan yang diparkirkan sekolah. Dengan berjalan kaki juga akan lebih leluasa memilih jalan yang tersembunyi.  Ah, masa itu…

Baiklah..,

Meskipun sudah tidak memakai sepeda untuk pulang pergi sekolah, bukan berarti saya lantas sama sekali tidak menggunakan sepeda. Sepeda masih sering saya gunakan untuk transportasi lokal,maksudnya buat keperluan sehari-hari dalam area dekat, misal beli kopi, beli ini itu, ke rumah temen sekampung. Sering juga berangkat naik sepeda, pulangnya lupa jalan kaki, lalu sepeda diantarkan ke rumah, biasanya sambil dipisuh-pisuhi…

Jadi seingat saya, sepanjang pengalaman hidup, saya kok belum pernah ya bersepeda dengan tujuan berolah raga. Sepeda, buat saya ya murni alat transportasi.  Ndeso ya? Ya wis ben…

17 respons untuk ‘Tentang Sepeda: Tren, Momentum dan Cerita

Add yours

  1. Waktu masih kuliah dulu, saya suka gowes mas.. cuma nggak suka rombongan kayak sekarang. Paling banter berdua saja sama kawan dan kita berkelana naik sepedah. Lebih enak daripada banyakan.

    Cuma sekarang sudah tuwir, dan kaki sudah pegel naik kereta, jadi nggak kuat lagi sepedahan. Lebih suka jalan kaki gandengan tangan sama si Yayang.. uppss…

  2. Soal selera dan pilihan.
    Saya bersepeda sesuka dan sesempat saya, itu pun gak jauh, apalagi sekarang karena faktor kelelahan dan rada takut krn di jalan ramai orang tanpa taat protokol.

    Satu hal yang saya belum bisa adalah sepeda gembira, bareng-bareng – kecuali dulu saat sekolah dan kuliah. Saya lebih suka sendirian. Dalam banyak hal, kalau memungkinkan, saya lebih suka sendirian.

  3. Di mana2 sama saja sekarang ya Pak. Lagi demam sepedaan dan pamer gambar dengan sepeda juga pamer aplikasi gowes ntah apalah itu.
    Tapi bukan aku juga,,, karena aku juga tak pernah terpengaruh musim begitu😀😊

    1. Iya.., banyak pesepeda baru dengan sepeda baru maupun sepeda lama. Tapi itu ternyata tidak membuat pesepeda lama macam saya buat beli sepeda baru… 😀

  4. zaman kuliah di jogja malah suka ga suka harus gowes, lha punya alat transportasinya itu, juga dalam rangka penghematan anak kost dan pertimbangan lain jalur 07 zaman itu tidak terlalu mudah untuk diketemukan. agak lama antriannya hehe…tapi emang bener seperti yang anda ungkap dalam artikel bahwa Pandemi corona memang telah memicu maraknya tren bersepeda.

    bagi yang sedang males atau kurang semangat olahraga, inilah momentun untuk memulai menggerakkan kaki mengayuh pedal.

  5. kebetulan saya juga pesepeda, tapi bukan model yang lagi trend sekarang ini.
    sering dapat pertanyaan “masih sering sepedaan mas?”, atau ajakan untuk gowes bareng. Tapi seringnya saya jawab “sudah enggak, males gowes rame-rame. takut corona.”
    Padahal ya masih gowes aja, cuma waktunya saja yang ‘ngepasi’ bukan jam rame orang gowes. 🙂

  6. Dulu sewaktu SD sampai SMP saya juga biasa menghabiskan waktu sore dengan bersepeda. Yah, walaupun cuma sekadar keliling kompleks, nggak tentu arah dan tujuannya xD Tapi ada sensasi tersendiri juga sih refreshing sembari mengayuh… Nice post!

  7. Pas kuliah dulu transportasi saya sepeda, Mr. Grubs. Tapi akhirnya beberapa tahun setelah lulus sepedanya tak jual buat menyambung hidup. Lakunya murah. Rugi banyak dan mesti melepas kenangan-kenangan bersama sepeda itu. Jadi sekarang pas banyak yang sepedaan saya nggak gumunan. Abis sepedaan, trennya apa lagi bakalan ya? 😀

  8. kalau di daerah, tren gowes di kala pandemi sudah menurun meskipun masih banyak rombongan gowes.. ya biasanya memang hobi bersepeda maupun memang alat transportasinya sepeda..
    kalau saya karena memang dulu alat transportasi sepeda ya intensitas gowes nggak banyak berubah.. cuma belakangan agak menurun karena tadinya sering gowes gendong si kecil, sekarang si kecil sudah bertambah berat.. ditambah horor dengan pandemi yang menghangat kembali..

Tinggalkan Balasan ke q.thrynx Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: