Versus

Beberapa waktu lalu, sebuah lembaga survei merilis hasil survei tentang opini masyarakat terkait penanganan korona. Saya baca berita itu dari sebuah artikel dengan judul  “Survei Indikator: Opini Publik soal Ekonomi vs Kesehatan Berubah Drastis”

Pada intinya, survei itu menerangkan bahwa pada bulan Mei sebagian besar masyarakat berharap agar pemerintah lebih fokus menangani kesehatan dibandingkan dengan masalah ekonomi. Dua bulan kemudian, survei yang sama menerangkan bahwa masyarakat ternyata lebih meminta pemerintah agar lebih memprioritaskan masalah ekonomi dibandingkan dengan masalah kesehatan.

Pandemi corona memang membawa dua masalah besar: kesehatan dan ekonomi. Beberapa orang menggolongkan penyikapan orang terhadap pandemi ini berdasarkan dua permasalahan di atas: mazhab ekonomi vs mazhab kesehatan.

Dan waktu dua bulan, dengan pandemi yang tak juga menunjukkan grafik penurunan, ternyata telah berhasil membuat pergeseran mazhab (kalau menurut survei) bagi sebagian besar masyarakat.

Ya, wajar juga sih. Isu corona kan memang sebenarnya isu kesehatan yang lalu merembet ke ekonomi. Jadi wajar kalau orang parno kesehatan dulu baru ekonomi.

Seiring waktu berlalu, isu ekonomi yang merupakan dampak, menjadi lebih meresahkan.

Urusan ekonomi kan berkaitan erat dengan kelangsungan hidup. Meskipun kesehatan juga jelas terkait dengan kelangsungan hidup. Ekstremnya ya, sama-sama matek, ya mending kita tanggung resiko kesehatan ketimbang gak bisa makan karena kesulitan ekonomi…

Dari sisi kesehatan, dalam hal ini bagaimana mengurangi penularan, ada banyak faktor yang membuat orang-orang mulai agak kendor dalam hal kewaspadaan. Jenuh misalnya, lha terus waspada berbulan-bulan kan ya menghabiskan energi . Selain tentunya ada juga sebagian orang yang memang tidak mau nurut sama kampanye protokol kesehatan…

Nek saya, untuk urusan ke luar kota misalnya. Rasa khawatir yang saya rasakan di awal masa pandemi bila dibandingkan dengan sekarang memang bisa dibilang menurun. Bukan berarti lantas tidak waspada. Berkurangnya ketidaknyamanan untuk ke luar kota itu lebih pada.., lha di kota saya sekarang juga sudah banyak kok angka positif, jadi kan ya sama saja, saya berada di dalam kota maupun di luar kota.

Meskipun begitu, sampai saat ini saya ke luar kota hanya jika ada pekerjaan yang mengaharuskan. Lha, masalah tanggungjawab pekerjaan, secara tidak langsung bersinggungan pula dengan mazhab ekonomi tadi juga…

Jadi ya.., wajar saja kalau orang bermazhab kesehatan lalu pelan-pelan menyeberang ke mazhab ekonomi. Sangat logis dan bisa dipahami.

Wah, menyeberang? Pindah ideologi? Hayah

Hal lain yang menarik dari permasalahan ini adalah tentang pemahaman kata “vs” alias versus.

Apakah urusan kesehatan dan ekonomi tersebut memang dua mazhab yang harus dipertentangkan?

Ya, sebenarnya juga nggak gitu-gitu amat sih,

Tapi ya.., kita kan terbiasa mempertentangkan dua kubu yang berbeda. Lebih seru, lebih menegaskan pada keyakinan masing-masing kubu. Kalau A ya A kalau B ya B, gitu kan ya? Kalau diantara A dan B dianggap plin plan

Lha,

“Versus” tersebut akan merangsang perdebatan antara dua kubu yang berbeda. Yang menarik, dari versus tersebut nanti akan timbul bermacam variasi versus-versus lainnya. Misal, jika kita menambahkan variabel politik “pendukung pemerintah” dan “pendukung oposisi”. Akan ada variasi : pendukung mazhab ekonomi yang mendukung pemerintah vs pendukung mazhab kesehatan yang mendukung pemerintah. Sama-sama mendukung pemerintah tapi beda perspektif tentang fokus penanganan pandemi.

Diskusi yang lebih seru akan terjadi pada: pendukung mazhab ekonomi yang mendukung pemerintah vs pendukung mazhab kesehatan yang mendukung oposisi. Nah, yang ini biasanya jadi debat kusir tak berkesudahan meneruskan rivalitas jaman pilpres.

Lebih seru lagi jika pendukung mazhab ekonomi yang mendukung pemerintah itu suka makan klepon bertemu dengan pendukung mazhab kesehatan yang mendukung oposisi yang tidak suka makan klepon.

Akan sangat banyak variasi dari versus-versus tersebut…

3 respons untuk ‘Versus

Add yours

  1. Enaknya jadi pendukung apa, ya? Hmmm. Mau kleponnya aja, boleh? Hehe.

    Bener banget. Waktu awal-awal dulu kayak lebih parno. Sekarang jadi makin banyak malah jadi kayak mikir, ya udah lah ya. :((

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: