Ayah yang melarangku merokok adalah perokok

Kang Yitno bercerita tentang dia yang baru saja memarahi anaknya habis-habisan. Anak laki-lakinya yang baru kelas satu atau dua SMA itu, saya lupa, dimarahinya karena ketahuan merokok untuk kedua kalinya. Merokoknya kayaknya sudah sering, ketahuannya baru dua kali.

Cerita tersebut saya sambut dengan tertawa ngakak dengan  dicampur sedikit ejekan. Saya tertawa karena Kang Yitno cerita tersebut sambil merokok, klepas-klepus dengan rokok yang ia ambil dari bungkus rokok punya saya pula…

Lha kan jadi ironi, perokok kok memarahi orang yang merokok?

Obrolan selanjutnya adalah klarifikasi Kang Yitno perihal argumen saya yang mengkritisi tentang bagaimana ia marah kepada seseorang yang merokok, padahal dia sendiri juga merokok. Argumen yang yang sebenarnya menitikberatkan ke arah pembullyan sih, karena membuang fakta bahwa yang merokok itu anak kandungnya yang masih (bisa dikategorikan) anak-anak. Haha…

Klarifikasi tersebut, secara umum dapat dibagi menjadi empat tema utama.

Pertama :

Kang Yitno mengatakan bahwa saya tidak berada di posisi dia, jadi ya saya tidak bisa merasakan apa yang dia rasakan. Mungkin paham tapi tidak merasakan. Anak saya masih kecil (SD kelas 1 dan TK), itupun cewek semua. Menurut belio, saya sama sekali gak tahu rasanya punya anak laki-laki yang beranjak remaja sehingga ejekan saya itu ia kategorikan sebagai sebuah kenyinyiran belaka. Jadi, menurutnya saya itu tidak mengerti dan merasakan konteks tapi punya hasrat besar untuk melakukan pembullyan

Kedua :

Menurut belio, dia merokok dan anaknya merokok adalah dua hal yang berbeda. Kang Yitno bilang bahwa anaknya masih minta makan dan uang untuk semua keperluan hidupnya dari bapak dan ibunya, termasuk buat beli rokok. Intinya, dia sebenarnya (akan) membolehkan anaknya untuk merokok nanti setelah anak tersebut bisa cari uang sendiri.

Dan ternyata, kayak penanganan corona, dalam pelarangan merokok ada mazhab ekonomi dan mazhab kesehatan juga.

Ketiga :

Isterinya berkali-kali mengeluh dan melaporkan sering ada bau rokok di baju anaknya tersebut. Keluhan tersebut sering berlanjut dengan omelan terhadap perilaku merokok Kang Yitno yang dianggap memberi contoh anaknya. Di sini kami ngakak bersama karena omelan isteri kami ternyata sama. Di sini saya bisa paham betul dengan konteks yang dia maksud karena saya merasakan apa yang dia rasakan.

Jadi, kemarahan tersebut semacam rasa solider lah terhadap isterinya, menunjukkan kepeduliannya tentang “membentuk perilaku baik” anaknya. Memarahi adalah salah satu ekspresi dari kepedulian tersebut.

Keempat:

Lha mosok ya dibiarin? Kang Yit lalu bercerita tentang ketika dulu usia segitu dia juga sudah merokok dan juga dimarahi oleh orang tuanya. Kami ngakak lagi karena saya juga merasakan hal itu.

Jadi, menurutnya marah adalah suatu hal yang harus dia lakukan. Menurutnya, kalau anak tidak ada lagi yang ditakuti itu bisa berbahaya. Menurutnya lagi, marah adalah cara yang paling efektif untuk menjaga wibawa orang tua. Wibawa adalah hal yang wajib dimiliki oleh orang tua kalau mau anaknya bener.

So, demikianlah rangkuman klarifikasi Kang Yitno terkait bullyan ringan saya perihal “perokok kok memarahi orang yang merokok”.

Kang Yitno memang beda dengan Dedy Corbuzier yang di podcastnya beberapa waktu lalu ngobrol tentang tema apapun bahkan tentang sex dengan anaknya dengan tanpa jarak. Kalau Dedy Corbuzier memilih untuk membuat lepas semua jarak dengan anaknya (yang ngomongnya kayak bule), maka Kang Yitno memilih menciptakan sedikit jarak melalui apa yang dia sebut dengan wibawa. Walaupun sebenarnya, melepaskan jarak juga bukan berarti  lantas tidak berwibawa. Dan, di sisi lain menjaga wibawa juga bukan lantas membuat jurang pemisah yang gak bisa dilewati…

8 respons untuk ‘Ayah yang melarangku merokok adalah perokok

Add yours

  1. Yaa, mungkin, kebanyakan orang tua, Secara hati nurani tidak mau anaknya merokok.
    Pakde ku, berkali-kali kalo ketemu, sering menasihati aku. “Ndak usah merokok, buang2 duit saja, tidak sehat pula.”

    Intinya mereka ingin yg terbaik untuk anaknya/keponaknnya.
    Tidak ingin anaknya melakukn hal yg “salah” seperti apa yg mereka lakukan.

    Btw, saya tidak merokok 😀

  2. Saya dulu perokok aktif sejak kelas 2 SMP, tapi sudah berhenti sebelum menikah. Jadi saat sekarang sudah punya anak, saya sudah bertahun-tahun melepaskan status perokok. Cuma sayangnya masalah rokok tidak begitu saja lepas dari kami, karena di lingkungan tempat tinggal kami banyak sekali perokok aktif yang asap dan bau rokoknya cukup mengganggu.

    Tapi saya agak setuju dengan perlunya memarahi anak, tapi bukan untuk menjaga wibawa orang tua sih. Kalau saya lebih kepada level kewajaran dari suatu kelakuan anak. Kalau anak melakukan sesuatu dan saya marah, itu berarti kelakuan tersebut tidak boleh lagi dilakukan di lain hari oleh anak dan kami juga.

    1. Saya molai ngrokok klas 3 SMP 😀
      Setelah nikah dan punya anak masih ngrokok juga walau tak sebebas dulu, dalam artian saya perlu menjauh dari anak-anak yang masih kecil kalau mau ngudud. Senikmat-nikmatnya ngrokok adalah saat sendirian atau kumpul dengan sesama perokok..

      1. Dulu saya hampir ngapa-ngapain pasti merokok, kecuali saat makan dan tidur. Kegiatan lainnya saya lakukan sambil merokok kecuali dilarang oleh peraturan. Misalnya jenguk orang ke rumah sakit. Tapi pernah sekali sih, waktu saya yang dirawat di RS Sardjito, saya tetap merokok di teras kamar inap saya.

Tinggalkan Balasan ke Dodo Nugraha Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: