Video Killed The Radio Star, VAR Killing Me Softly

Tahun 1979 The Buggles merilis lagu berjudul Video Killed The Radio Star. Informasi ini barusan saya dapat dari hasil googling, soalnya yang saya tahu lagu ini yang versi covernya, oleh The President of The United States of America. Itu adalah band rock alternatif yang lumayan unik sehingga kami cukup menyukainya, yang vokalisnya botak, yang saya kenal sekitar akhir periode 90-an. Jaman saya masih muda, masih kurus kering dan masih seperti itu…

Lagu ini dibuat katanya terinspirasi dari perubahan teknologi di tahun 60-an. Dari judulnya terlihat jelas, tentang keresahan mulai maraknya teknologi audio visual menggeser teknologi audio nir visual. Juga kekhawatiran tentang anak-anak generasi setelahnya yang bakal tidak menghargai masa lalu. Radio star is dead

Tapi..,

Sekarang ini, penggunaan video bukan hanya untuk “membunuh radio” saja. Dan sampai saat ini sebenarnya, radio juga belum terbunuh, ia masih hidup dalam berbagai bentuknya, diputar di dalam mobil atau didengarkan orang dengan cara streaming. Dan bahkan bisa juga berkolaborasi dengan video. Kolaborasi video dan radio ini bisa kita jumpai dalam wujud podcast. Ya, setidaknya “ruh” radio ada di podcast

Lha.., saya itu kalo menyimak podcast itu bisa “menonton” atau “mendengarkan”. Bahkan di yutub, saya sering membiarkan hape tergeletak begitu saja sambil mata terpejam membiarkan telinga saya menyimak pembicaraan, kadang sampai ketiduran. Tentunya setelah menyetting resolusi video yang paling hemat kuota.

Dan..,

Video memang bukan hanya untuk “membunuh” radio, bahkan juga bukan sekedar media dokumentasi.  Saat ini, video juga digunakan untuk “membunuh” kecurangan dalam dunia persepakbolaan. Ya, setidaknya begitulah tujuan awal penggunaan VAR (Video Assistant Referee) dalam dunia sepakbola.

Karena masih barang baru, saat ini banyak sekali kontroversi maupun perdebatan terkait penggunaan VAR ini.

Penggunaan VAR, kata Bung Kus komenator idola kami, di satu sisi dapat mengurangi sifat-sifat kemanusiaan dalam sepakbola.

Lha..,

Terjadi gol, susah-susah bikin gol lalu selebrasi heboh, …eh, dianulir, dianggap offside karena jari tangan si penyerang dua mili didepan bek lawan. Yang nonton di rumah saja kadang sebel, apalagi yang di stadion, apalagi yang main. Serasa gimana, sudah klimaks kok terus diralat, ralatnya ngeslin pula…

Kalau misal saya diminta pendapat tentang penggunaan VAR. Saya setuju sih, untuk alasan transparansi dan meminimalisir pengaturan skor. Tapi ya itu, kok lebih sering terganggu kenyamanan saat nonton bola ya? …

Di medsos banyak postingan maupun komentar lucu terkait kontroversi VAR, apalagi bila ada gol dianulir atau sebuah tim dapat hadiah penalti. Banyak juga yang ribut, karena memang selain VAR yang mengandung kontroversi juga memang karakter netijen kita yang memang hobi berkelahi online, jadi ya apapun beritanya berkelahi juga akhirnya…

Jadi ya..,

Bahwa VAR itu ideal untuk mendapatkan keadilan yang nyaris sempurna itu iya, betul. Makin jelas videonya, makin jelas kelihatan itu pelanggaran arau bukan.

Tapi ya..,

Mosok selisih posisi sikut dua mili bisa menggagalkan sebuah gol. Kan ngeselin?

Offside kan terjadi ketika seorang pemain (yang sedang menyerang) menerima bola saat posisinya berada lebih dekat dengan gawang dibadingkan dengan pemain lawan (yang sedang bertahan, selain kiper). Konon katanya peraturan ini diperlukan biar sepakbola lebih enak ditonton, biar tidak ada pemain yang hanya menunggu bola saja di depan gawang…

Okelah offside, tapi ya dilihat dari jarak yang kasat mata saja lah, semili dua mili itu terlalu saklek, terlalu riwil dan jadi ngeselin…

Tapi ya, yang namanya peraturan mah kadang gitu, sering terjebak mengatur hal yang terlalu teknis kadang jadi rancu secara substansi…

Aih…

10 respons untuk ‘Video Killed The Radio Star, VAR Killing Me Softly

Add yours

  1. teknologi yang asyik memang sudah sepatutnya membantu dan memudahkan urusan. perkara pas penerapannya pertama kali dianggap mengganggu, sepertinya ya ini sifat manusia saja yang enggan keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru. termasuk soal VAR. pas awal-awal dianggap kontroversi, nanti lama-lama juga bakal terbiasa dan bakal bilang, sepak bola kok ngga ada VAR itu ibarat main sepak bola primitif.. 🤭

    1. Sepakat. Tapi ya tetep aja ada banyak hal yang perlu dievaluasi dalam penerapannya supaya penontondan pemain tidak gemes… 😀
      Dan liga Indonesia tampaknya masih primitif, belom nyabain VAR sih.. 😀

  2. Aturan offside memang agak ribet mungkin kalo disamakan dengan basket yang jadi tolak ukur adalah kaki yang menapak, peraturannya jadi lebih simpel. Selama kaki pemain menyerang masih di depan pemain bertahan maka masih on. Tapi ini akan berpengaruh juga ke penilaian bola sudah keluar lapangan atau masih di dalam.

    1. Lha ini…, Basket terutama NBA sudah lama pake teknologi video dalam hal perwasitan dan enjoy aja tuh kita nontonnya. Mungkin seperti yang dikatakan bos zam diatas, diawal-awal kontroversial tapi lama-lama enjoy juga. tentunya dengan evaluasi terus menerus…
      Satu lagi yang perlu ditiru dari basket untuk diterapkan di sepakbola: penghitungan waktu, di basket kalau permainan berhenti waktu juga distop, ini bisa mengurangi pemain bola yang suka akting pura-pura cedera buat ngulur waktu, njelehi pol kwi…

  3. Baru baca judulnya saya sudah mau joget, Mr. Grubs. 😀 Langsung terbayang-bayang nada dan hentakannya.

    VAR menolong sih menurut saya. Tapi kurang asyik aja kalau kita melihat sepakbola sebagai permainan. Mungkin teknologi itu dipakai karena modal yang masuk ke industri sepakbola gedenya luar biasa kali ya? Entahlah…

    1. Haha..,
      Modalnya memang gede luar biasa, dan kalok duit guede tersebut kualitas peraturan yang menunjang kenikmatan menonton tidak dievaluasi ya kebangeten lah.. 😀 😀

  4. Saya sebenarnya suka dengan ide VAR pada awalnya. Tapi kemudian agak mengganggu kalau digunakan berlebihan. Idealnya itu VAR dipakai seperti hawk eye di tenis gitu. Yang bisa mengajukan review adalah tim dan kesempatan itu bisa digunakan hanya 1x saja dalam 1×45 menit.

    Misalnya, suatu tim bahwa ada pelanggaran yang terjadi sebelum gawangnya kebobolan. Maka tim tersebut bisa mengajukan review melalui VAR. Kalau ternyata claimnya terbukti, wasit bisa menganulir gol yang mereka derita. Kalau hak itu sudah terpakai, ya sudah, tidak ada lagi review kejadian menggunakan VAR.

    Tapi rasanya tidak mungkin ide saya terdengar sampai ke FIFA. Jadi ya dinikmati saja pertandingannya. Hehe.

    1. Di badminton juga sudah pake itu ya mas, challenge untuk keputusan wasit di lapangan. Kesempatan 1x untuk satu babak gak terlalu sedikit mas?
      Haha..,
      Ya semoga sekjen FIFA bisa baca usulan ini.. 😀

Tinggalkan Balasan ke Djangkaru Bumi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: