Memayu Hayuning Cerita

Dalam sebuah acara lamaran yang sederhana, Yu Sri bercerita panjang lebar tentang kisah pertemuan dua calon mempelai, Ngabdul dan Siti. Menarik sekali cara Yu Sri bercerita, kadang disisipi bermacam humor yang dia karang sendiri. Semua hadirin terhibur mendengar kisah menyenangkan tersebut. Ngabdul dan Siti juga hanya cengar-cengir dan kadang tersipu malu. Mereka sadar benar bahwa yang diceritakan oleh Yu Sri bukanlah seratus persen kejadian nyata, ada bagian yang dikurangi dan banyak yang dilebih-lebihkan.

Walau ada sedikit bumbu mengarang indah, tapi Ngabdul dan Siti cukup menikmatinya, juga semua yang hadir. Tidak ada yang protes mendebat Yu Sri sebagai penebar hoax. Suasana jadi hangat dan acara bahagia tersebut jadi tambah menyenangkan.

Yang dilakukan oleh Yu Sri adalah memayu hayuning cerita.

Weh, memayu hayuning cerita? Apa pula ini?

Anda pasti sudah pernah mendengar ungkapan memayu hayuning bawana. Itu merupakan filsafat dan nilai-nilai luhur dalam budaya Jawa yang penuh dengan ajaran budaya maupun spiritual tingkat tinggi. Yang jelas ilmu saya gak cukup untuk bisa dengan gamblang menjabarkannya di sini. Ahay…

Secara mudah, memayu hayuning bawana dapat diartikan sebagai memperindah keindahan dunia.

Konon, kata memayu dan hayuning itu berasal dari kata dasar yang sama, ayu atau hayu yang artinya cantik. Memayu berarti mempercantik dan hayuning berarti kecantikan, bisa juga diartikan keindahan…

Memayu hayuning cerita yang saya maksud adalah upaya untuk memperindah sebuah cerita agar menjadi lebih enak didengar.

Untuk kepentingan tertentu, memperindah cerita tersebut kadang perlu tambahan bumbu-bumbu penyedap. Supaya apa? Ya supaya orang senang mendengarnya, supaya lebih lucu atau biar suasana jadi lebih hangat…

Bagi saya, memperindah cerita dalam konteks ini jelas bukan suatu masalah, bukan suatu kejahatan. Itu kan, bisa dibilang mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pujangga, para sastrawan atau penulis lagu. Mereka kan juga sedang memayu hayuning cerita. Bahan dasar dari cerita di dunia nyata diolah dan dibuat jadi lebih indah dengan bahasa puitis, dibuat jadi lebih indah dengan menambahkan detil yang imajinatif dan inspiratif, juga dengan menambahkan sentuhan artistik dan lain sebagainya. Pokoknya, jadi lebih indah dari warna aslinya…

Yu Sri adalah semacam pujangga dalam hal menceritakan pengalaman hidupnya dengan bahasa lisan.

Namun kadang..,

Bahasa lain dari “memperindah cerita”, adalah “memperlebay cerita”…

Memperindah atau melebih-lebihkan cerita bisa dibuat dari berbagai perspektif. Ada yang solutif ada juga yang destruktif.

Salah satu perspektif yang bisa bikin masalah jadi pelik adalah perspektif orang yang merasa terzolimi.

Iya, perspektif atau sudut pandang  dari orang yang (dengan mudahnya) merasa terzolimi itu sering nyebelin. Dalam berbagai hal, ketika mengalami kejadian yang tidak diinginkan, ada orang-orang yang cenderung menyalahkan pihak lain dan merasa dirinya terzolimi…

Anak saya saat masih balita pernah memecahkan gelas. Dia bermain, berlarian sesuka hati dan menyenggol sebuah gelas. Gelas pecah lalu dia menangis.

“Lha mama naruh gelas di situ kok, mama nakal…” dia spontan membela diri dan menjelaskan kesalahan orang lain sambil menangis. Dia merasa dizolimi oleh ibunya yang menaruh gelas. Dia sedang membela diri dengan cara membuat narasi. Bahan dasar memayu hayuning narasi tersebut dilakukan dengan perspektif orang terzolimi, bahwa ada orang yang menaruh gelas sembarangan sehingga membuat dia tidak sengaja menyenggolnya dan kemudian pecah.

Dalam dunia yang makin alay saat ini, perspektif terzolimi tersebut dikuatkan dengan misalnya pemahaman tentang teori konspirasi, bahwa ada persengkongkolan jahat dari orang-orang berpengaruh yang sengaja menaruh gelas sehingga setiap saat kita bisa menyenggolnya dan memecahkan gelas tersebut.

Ada berbagai macam teori konspirasi, banyak yang mengasyikkan dan membuka wawasan. Tapi, teori –teori tersebut seringkali diperindah dengan berbagai bumbu yang begitu gurih sampai-sampai orang yang menelannya benar-benar larut dalam keyakinan yang begitu kuat sehingga rela melakukan apa saja untuk membela keyakinannya tersebut dan bahkan menyerang pihak yang berseberangan. Eksploitasi berlebihan pada kecurigaan yang sebenarnya masih asumsi, ditelan mentah-mentah oleh kawan-kawan kita tersayang yang suka nggumunan (mudah merasa takjub/ minim referensi). Tinggal lheeb, seperti iklan sosis…

Dalam kondisi seperti ini, maka memayu hayuning cerita malah menjadi teknik untuk merawat kebencian dan dendam secara baik dan benar…

7 respons untuk ‘Memayu Hayuning Cerita

Add yours

  1. Saya sendiri juga memakai cara itu sih dalam menulis cerita atau pengalaman di blog tentang anak saya. Bukan berbohong, tapi menambah sedikit bumbu biar menarik.

    Saya banyak melihat itu dari film² yang based on true story. Biasanya ada keterangan di akhir film, bahwa beberapa adegan memang ditambahkan dari kisah nyatanya.

    Selama tidak membuat kebohongan dan mengaburkan kisah nyatanya, saya pikir tidak masalah.

  2. Kalau bentuknya impresi, saya kira sih wajar-wajar saja, Mr. Grubs. Bumbu-bumbunya itu ya produk dari kepala manusia yang (menurut kita, manusia) punya kemampuan mengabstraksi ini. Misalnya kayak bintang-bintang di langit dalam lukisan-lukisan malam-nya Van Gogh. Tapi, kalau melebih-lebihkan sampai-sampai merugikan orang lain, kebangetan, sih. 😀

  3. jadi ingat ada sebuah permainan di mana seseorang berdiri berjajar, terus di ujung satu diberi sebuah kalimat yang harus disampaikan ke ujung yang lain.. sampai di ujung, isi pesan bisa sangat jauh berbeda..

Tinggalkan Balasan ke morishige Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: