Menjadi Solutif

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ngobrol dengan seorang wanita yang sukses dalam kariernya sebagai birokrat. Kami ngobrol panjang tentang perjalanan kariernya, sampai sekarang ia dipercaya memegang jabatan tertinggi di sebuah instansi di pemerintahan daerah. Tentu jabatan tinggi tersebut tidak ujug-ujug diraih, ada jalan panjang yang sudah dilewatinya…

Kesan utama yang muncul dari kisah yang ia ceritakan adalah kemampuannya dalam menemukan solusi bagi dirinya sendiri. Pribadi yang solutif…

Kata solutif ini beberapa waktu lalu juga sempat hit berkat tokoh Bu Tejo di film pendek sukses berjudul Tilik. Waktu itu Bu Tejo mengklaim dirinya sebagai seorang yang solutif karena mampu memberi solusi untuk ke Pasar Beringharjo setelah rombongan ibu-ibu kampungnya gagal menengok Bu Lurah.

Ngomongin Bu Tejo-nya cukup di sini, kita kembali ke ibu wanita karier yang saya ceritakan di awal.

Ciri pribadi solutif terlihat dari bagaimana ibu ini bisa memanajemen dirinya ketika ia berada di tempat yang sebenarnya tidak ia sukai. Ia punya ilmu di bidang pertanian dan peternakan tapi suatu saat harus berada pada bidang perkoperasian.

Pada awalnya ia jelas stress, kesal dan bingung. Tapi kebingungan dan keresahannya tersebut secara baik menuntunnya untuk berbuat sesuatu.

Yang ia lakukan kemudian adalah mempelajari segala sesuatu tentang koperasi. Ia cari mana yang sekiranya masih agak relate dengan dirinya, ia menemukannya di koperasi susu. Lha iya to, produksi susu kan masih bagian dari manajemen peternakan, sesuai ilmunya waktu sekolah…

Dari menguasai masalah koperasi susu lalu merembet ke bidang-bidang lainnya terkait perkoperasian. Benang kusut pada awal kegalauannya telah berhasil dia uraikan dengan menemukan sesuatu yang ada dalam jangkauan gairahnya. Ia mencari dan menemukan solusi untuk diri sendiri…

Nah, itulah mindset solutif…

Mindset solutif merupakan mindset yang selalu berfokus pada solusi. Fokus terhadap bagaimana memahami persoalan dan peka terhadap potensi yang dimiliki yang bisa jadi solusi.

Konon, ada dua paradigma penyelesaian masalah: problem solving dan solution focused.

Problem solving adalah menemukan akar masalah lalu memperbaiki kerusakan di akar masalah tersebut. Dalam dunia yang penuh kepastian seperti perbengkelan ya problem solving ini sangat efektif dan harus dilakukan. Mobil gak bisa distarter ya mungkin akar masalahnya ada di aki, aki diperbaiki ya beres lah…

Dunia permesinan, dunia permekanikan memang penuh kepastian. Sayangnya, dunia ini tidak semuanya penuh dengan kepastian. Hubungan antar manusia selalu penuh dengan ketidakpastian. Malah katanya, satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri…

Jika problem solving ini diterapkan di hubungan antar manusia, ya susah. Misal, suami isteri bertengkar, kalau mau dicari siapa akar masalahnya, gak bakal selesai. Yang ada ya saling menyalahkan karena sudah sewajarnya setiap orang akan membela diri bila disalahkan.

Suami atau isteri akan membela diri, yang kadang memakai filosofi sepakbola timnas Brazil: pertahanan terbaik adalah menyerang. Ya sudah, saling serang berkepanjangan dan masalah baru akan timbul dari serangan-serangan tersebut. Akar masalah lalu jadi seperti fosil yang terpendam jauh di dalam perut bumi tertimbun oleh masalah-masalah baru hasil dari pertengkaran…

Fokus pada solusi maksudnya fokus pada potensi solusi.

Dalam bahasa problem solving, kalau kamu menganggap bahwa pacarmu itu tingkat nyebelinnya mencapai 90 persen, maka tugasmu adalah mencari penyebab 90 persen tersebut dan setelah ketemu diperbaiki. Mencari problemnya lalu solving the problem

Kalau dalam bahasa solution focused maka jika pacarmu itu memang 90 persen nyebelin, silahkan cari 10 persen yang tidak nyebelin itu. Itulah potensi solusi…

Misal pacarmu itu kelihatan sedikit lebih manis jika bernyanyi, ya cobalah beli gitar yang berkualitas dan sering-seringlah ajak dia bernyanyi bersama…

Kalau dari cerita si ibu wanita karier tadi, dari kegalauannya berada di tempat baru yang beda dengan passion dan disiplin ilmunya, beliau menemukan 10 persen potensi solusi: urusan koperasi persusuan yang relate dengannya. Dari memahami koperasi susu merembet ke koperasi bungkus susu misalnya, merembet lagi ke koperasi simpan pinjam susu dan lain seterusnya. Dari 10 persen, naik jadi 15 persen lalu naik lagi jadi 25 persen sampai 97,5 persen jika konsisten…

Jadi ingat fatwa bapak Gofar Hilman di salah satu podcast, bahwa bukan masalah passion kamu dimana tapi lakukanlah pekerjaanmu dengan passion. Aih…

Dan sebenarnya..,

Mencari potensi solusi adalah budaya kita sejak dulu. Dalam konteks sosial, bahasa lain dari mencari solusi dalam menghadapi sebuah masalah kan ya musyawarah mufakat to? Bermusyarwarah untuk mencapai mufakat, mencari potensi solusi untuk kebaikan bersama…

Sebagai orang yang setiap tahunnya dari SD sampai SMA selalu lulus pelajaran PMP atau PPKn, saya masih ingat tentang sila keempat Pancasila yang dalam butir-butirnya menguraikan ihwal musyawarah mufakat ini.

Musyawarah untuk mencapai mufakat yang diliputi oleh semangat kekeluargaan.

13 respons untuk ‘Menjadi Solutif

Add yours

  1. Bagus ulasannya pak. Jika mengenai mesin problem solving itu agak mudah ya. Misalnya motor ngga menyala coba lihat bensinnya barang kali habis. Kalo masih ada coba cek businya, kalo busi masih bagus tapi tetap ngga nyala tinggal dorong ke bengkel.😂😀

    Tapi kalo hubungan antar manusia agak susah. Jika ada orang tidak suka kita, bingung mau mencari tahu apakah yang menyebabkan dia tidak suka kita. Oh ternyata kita suka ngutang. Kita perbaiki dengan jangan sering ngutang ya.😂

  2. Nah itu masalahnya, soal solutif saya sangat miskin sekali
    Kalau ditempatkan dimana pada sebuah pekerjaan yang saya tidak menguasai dan tidak saya senangi
    biasanya saya stres, apalagi beradaptasi dengan teman dan lingkungan. Butuh waktu lama.

    1. Kata orang.., tiap orang punya kecepatan beradaptasi yang berbeda-beda, yang utama ya kita tahu apakah kita orang yang cepat atau lama beradaptasi. Kalau sudah paham kita tipe yang lama beradaptasi ya sabar saja, lha wong sedang proses…
      Katanya sih gitu… 😀

  3. mantab kali ya bisa ngurus dunia persusuan dengan segala turunannya (dari ranah usaha koperasi) dan sosok yang ada di balik layar ternyata perempuan…cool! apalagi jika ditambah kelebihan yabg dipunya salah satunya yaitu karakternya solutif.. jadi siap menghadapi berbagai kondisi yang ada di medan pertempuran (bisnis atau karir) yang diembannya ya mas ..

    solutif ke bidang lainnya tetiba nyambung juga di masalah mesin, perkawinan, hubungan sosial antar manusia dan lain sebagainya..menarique mas …

    bener juga sih analogi analogi yang dipakai hehe

    tapi pas sekolah aku uda ga menangi pmp lagi mas, uda ganti ppkn 😄

    1. Haha iya mbak mbul, soal susu memang selalu mantap…

      Ya minimal saya juga sempat merasakan PMP berganti nama jadi PPKn, jadi ya masih gak terlalu jauh banget lah jaraknya.. 😀

  4. Pembahasan ug sangat inspiratif, pak!
    Yaa ternyata kita itu harus menjadi orang yang solutif yaa. Mencari akar / inti masalah, agar masalahnya segera selesai. Mindset seperti ini sangat diperlukan di dunia pekerjaan yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: