Dalam rangka merayakan dan meributkan

Di salah satu tulisannya, sepanjang yang saya ingat, Umar Kayam pernah membahas tentang “seni dalam rangka”. Itu ungkapan yang beliau ciptakan untuk mengomentari pertunjukan-pertunjukan seni yang digelar “dalam rangka” sesuatu. Dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dalam rangka sosialisasi program pemerintah atau juga dalam rangka peringatan ulang tahun entah siapa…

Kalau gak salah ingat, Pak Kayam waktu itu mengomentari pertunjukan seni yang dibuat berdasarkan “dalam rangka” itu mungkin tidak akan bisa menggali keresahan terdalam yang dimiliki sang seniman karena karya yang ia buat bukan berdasarkan apa yang sebenar-benarnya ingin ia ungkapkan tapi lebih kepada misi “dalam rangka” tadi…

Dalam keseharian, tema “dalam rangka” ini sering kali menjadi dasar dari penyelenggaraan berbagai kegiatan. Latar belakang kegiatan berdasarkan “dalam rangka” itu memang cukup masuk akal…

Belakangan juga cukup banyak postingan di blog yang berdasarkan “dalam rangka”, misal dalam rangka bulan bahasa, dalam rangka hari sumpah pemuda, dalam rangka hari blogger nasional…

Kegiatan manusia banyak yang terkait dengan “dalam rangka perayaan ini” atau “dalam rangka perayaan itu”. Perayaan adalah bagian dari peradaban karena hanya makhluk yang beradab yang punya cara untuk membuat perayaan atas apapun yang mereka mau.

Perayaan tidak termasuk dalam kebutuhan pokok yang kita akan mati jika tidak melaksanakannya…

Ada banyak hal yang bisa dirayakan, biasanya terkait dengan sesuatu yang istimewa.

Hal istimewa tersebut bisa terkait dengan peristiwa tertentu seperti hari kelahiran yang kemudian disebut dengan ulang tahun, seperti perayaan ulang tahun kemerdekaan yang setiap bulan Aguistus selalu meriah di seluruh negeri.

Ada juga peringatan hari-hari besar agama. Hari besar agama ini selalu istimewa, ya minimal angka tanggal di kalender warnanya jadi merah dan sering kali diikuti bonus beberapa hari yang disebut cuti bersama…

Perayaan terkadang tidak memiliki jadwal rutin tertentu, misal perayaan Liverpool juara liga Inggris yang sudah 30 tahun tidak terjadi lalu ternyata bisa kejadian musim kemarin di tengah pandemi corona.

Ada banyak cara orang dalam merayakan sesuatu, bisa dengan mengadakan upacara atau ritual tertentu dengan penuh kekhidmatan, bisa dengan menggelar festival, karnaval meriah dengan suka cita atau dengan menggelar pertunjukan “dalam rangka”. Ada juga yang menyelenggarakan sebuah perayaan secara sederhana, cukup berdoa bersama atau mungkin minum bersama…

Menulis blog ini pun juga sebuah perayaan untuk hak mengemukakan pendapat. Atau bahkan, demonstrasi itu juga sebenarnya adalah wujud dari perayaan berdemokrasi…

Minggu ini ada banyak perayaan yang secara langsung saya alami.

Perayaan pernikahan. Sebulan ini saya mengeluarkan budget yang lumayan banyak buat mengisi amplop buat perayaan disyahkannya mempelai laki-laki menjadi suami dari mempelai perempuan. Ada empat pasang selama bulan Oktober, dua orang teman dan dua lagi masih sodara dekat.

Isteri saya melaporkan, jumlah pengeluaran bulan ini yang lebih banyak dari bulan-bulan kemaren. Gak papa lah, buat berpartisipasi untuk perayaan momen penting dari orang-orang dekat cukup sepadan lah. Jer basuki mawa beya, untuk sebuah kebaikan perlu sedikit pengorbanan…

Di long weekend ini juga, jalan raya dan tempat wisata jadi lebih ramai dari weekend biasa di era pandemi ini. Entah mereka itu sedang merayakan liburan atau merayakan momen  kebebasan setelah berbulan-bulan menahan diri untuk piknik.

Perayaan maulid nabi di tempat saya biasa-biasa saja, selain karena ini masa pandemi, saya tinggal di lingkungan warga yang cenderung santuy dalam menyikapi maulid nabi. Ini berbeda dengan dulu ketika saya kos di lingkungan yang merayakan maulid nabi dengan lebih meriah. Saat itu undangan acara asrakalan bergantian sehingga selama beberapa waktu bisa dipastikan saya bisa menghemat anggaran pengeluaran makan minum.

Pertengahan minggu ini, tepatnya 28 Oktober juga adalah perayaan Sumpah Pemuda, memperingati peristiwa ketika semangat persatuan dan cita-cita kebangsaan bersama-sama didengungkan oleh para pemuda Indonesia kala itu.

Sehari sebelum sumpah pemuda adalah hari blogger nasional. Saya pernah tahu itu dan sudah lupa tapi lalu teringat lagi setelah baca postingan di beberapa blog.

Lalu..,

Semangat “dalam rangka” ini tidak hanya terjadi dalam konteks perayaan saja. Urusan ghibah dan berdebat pun ada “dalam rangka”nya.

Setiap Natal tiba, akan ada perdebatan rutin tentang boleh tidaknya umat Islam ngucapin selamat Natal. Saat jelang tanggal 30 September kemarin juga ada perdebatan rutin, entah itu “dalam rangka”  pelurusan sejarah atau “dalam rangka” agenda politik atau memang sekedar suka berdebat saja…

Dan.., dalam perayaan apa pun memang sepertinya selalu include keributan terkait perayaan tersebut, sudah satu paket kayaknya. Perayaan maulid nabi sering diributkan antara yang melakukan dan yang menganggapnya tidak perlu.

Perayaan pesta pernikahan juga ada yang selalu bisa diributkan, terutama jika anda bersama rombongan emak-emak riwil, pasti sering muncul komentar ini itu, nyinyiran ini itu ihwal menu makanan yang kurang apa lah, dekorasi yang terlalu apa lah, hiburan yang kurang sesuai apa lah…

Ah iya.., merayakan dan meributkan sesuatu kan tanda bahwa kita hidup dan bersosialisasi…

25 respons untuk ‘Dalam rangka merayakan dan meributkan

Add yours

  1. Saya juga pernah menulis tentang ini. Hampir setiap bulan, akan ada “ritual” perdebatan rutin terhadap suatu isu. Terakhir saya juga gregetan dengan “pertengkaran” di media sosial dalam rangka merayakan keberhasilan Jakarta memenangkan award kelas dunia.

  2. Memang banyak orang merayakan sesuatu dalam rangka, misalnya dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda atau maulid nabi Muhammad Saw.

    Yah, namanya hari spesial makanya diperingati. Tapi hari sumpah pemuda kok ngga tanggal merah ya.😅

    Disini biasanya peringatan maulid nabi ramai pak, ada pawai keliling kampung terus malamnya ada acara pengajian. Untuk tahun ini cuma pengajian saja, pawainya dihilangkan.

    1. Tanggal dihitamin aja lah mas, lagian juga sudah kebanyakan work from home orang-orang kayaknya.. 😀

      Pawai dihilangkan karea special edition, edisi corona…

  3. cara bersosialisasi memang bermacam-macam dari karakter orang yang bersosialisasi itu sendiri …. ada yang ribut tapi gak di bawa hati, ada pula yang tentang-tenang saja ah memang manusia

  4. Dalam rangka dalam rangka
    Kini memang semakin banyak saja
    Ya anggap saja sebagai ajang kemeriahan
    Kadang perayaan ini juga sudah sepi dari makna
    Sekedar meramaikan saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: