Antar Generasi Saling Isi

Sebuah artikel di Kompas membahas tentang bagaimana keberadaan tiktok telah membuat lagu-lagu lama kembali mendapatkan popularitas. Salah satunya adalah lagu dari Simple Plan.

Bulan Mei lalu, Simple Plan grup band yang  mulai beken di akhir masa remaja saya itu mendapatkan platinum untuk lagu yang dirilisnya tahun 2002. Judul lagu tersebut adalah I’m Just A Kid. Pencapaian ini diperoleh karena lagu I’m Just A Kid sangat banyak digunakan sebagai backsound video challenge di tiktok.

Saat itu, orang-orang di seluruh dunia membuat lagu ini kembali populer lewat tiktok dan instagram. Yang jelas lagu berjudul I’m just a kid memang dipakai untuk mengiringi unggahan foto-foto di masa kecil. Dan memang pas, tema lagu dan foto yang diunggah cocok. Memang rejekinya Simple Plan.

Setelah 18 tahun, lagu lama itu pun kembali memperoleh popularitasnya…

Sedikit mirip dengan Simple Plan, almarhum Didi Kempot beberapa waktu lalu juga mengalami masa keemasan kedua. Legenda campusari dunia ini pertama tenar di sekitar masa remaja saya sekitar 90-an. Kalau acara gitar-gitaran waktu itu, lagu Didi Kempot kadang bergantian dengan band populer saat itu macam Slank, Oasis, Green Day mengisi malam-malam penuh canda tawa. Kala itu, penyanyi dengan karakter yang unik selalu mendapat tempat di hati kami. Pakde Didi termasuk di situ…

Beberapa waktu lalu, Didi Kempot kembali naik popularitasnya berkat viralnya unggahan dan tagar di media sosial yang kemudian merembet ke pertelevisian. Dan Didi Kempot kembali menjadi fenomenal secara nasional. Di acara konser amal di awal corona, beliau bahkan mampu mengumpulkan dana miliaran dalam konser virtual yang disiarkan live sebuah stasiun TV.

Karakter yang kuat dan konsistensi adalah faktor penting dalam karier bermusik Didi Kempot. Dan hal tersebut memperoleh momentum di era generasi gadget dan media sosial. Tagar sobat ambyar, sadbois, sadgirl, godfather of broken heart membuatnya kembali tenar…

Baik Didi Kempot maupun Simple Plan mendapatkan rejeki berkat momentum yang tepat. Momentum ini dipicu oleh teknologi dan gaya hidup generasi saat ini.

Sesungguhnya, apa yang terjadi pada Simple Plan dan Didi Kempot adalah contoh dari hubungan mutualisme antar generasi. Genereasi tiktok memanfaatkan karya generasi terdahulu untuk bersukaria merayakan challenge ini challenge itu dan bikin tagar ini atau tagar itu. Di saat yang sama generasi lampau juga menemukan kembali momentumnya untuk lebih dikenal lagi…

Selama ini saya kadang mendengar istilah perang antar generasi dimana generasi milenial kadang sulit untuk klop dengan generasi kolonial. Para milenial dan Gen Z ini kadang menganggap generasi di atasnya kuno dan tidak mau mengerti perubahan zaman. Di lain sisi sang generasi lama menganggap generasi sekarang terlalu manja, labil dan alay…

Soal  perspektif perang antar generasi, Ricky Malau dalam podcastnya bersama Jimi Upstair pernah bilang kalau seorang Pidi Baiq telah berhasil mengelabuhi generasi milenial. Beberapa waktu kemarin film Dilan sangat sukses dan karakter Dilan mendapat tempat di kalangan anak-anak sekarang. Artinya, Dilan itu dianggap keren. Padahal Dilan adalah tokoh yang hidup di era 90-an. Berarti ya, Pidi Baiq berhasil mengelabuhi anak-anak sekarang untuk percaya bahwa anak era 90-an itu keren atau malah lebih keren…

Dan memang sih, 90-an is the best. Heheuu…

Itu kalau perspektifnya adalah perang antar generasi, meributkan siapa yang lebih keren dari siapa…

Tapi kalau perspektifnya adalah hubungan yang lebih mesra antar generasi, ya kita bisa bilang kalau Pidi Baiq telah memberikan referensi kepada generasi sekarang tentang bagaimana kehidupan dan suasana anak muda era 90-an.

Ya, antara generasi kolonial dan milenial memang berbeda dalam banyak hal. Alam lingkungan yang membentuk kehidupan mereka dari awal sudah jauh berbeda, jelas wajar kalau banyak beda…

Tapi ya sebenarnya kadang ada juga saat dimana mereka bisa saling menguntungkan, hubungan mutualisme seperti dicontohkan Simple Plan dan Didi Kempot di atas.

Hubungan mutualisme antar generasi ini beberapa waktu ini sering saya lihat di kehidupan sehari-hari. Itu karena ibu saya mulai butuh menggunakan smartphone, dimana sudah hampir setengah tahun masih sering bertanya bagaimana cara menyalakan HP setelah dicharge karena kehabisan batere, bagaimana membuka WA, bagimana lihat yutub, bagaimana cara memfoto…

Kekurangcekatan ibu saya dalam menggunakan teknologi dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak yang masih kelas 1 SD dan TK. Mereka selalu dengan cepat sok-sokan membantu neneknya perihal handphone. Setelah neneknya selesai maka HP pun berpindah tangan ke anak-anak tadi.

Si nenek bisa baca grup WA kelompok pengajiannya dan anak-anak punya satu lagi stok pinjaman HP karena HP punya bapaknya sering tidak dikasih kalau dipinjam…

11 respons untuk ‘Antar Generasi Saling Isi

Add yours

  1. Kalau Pak Kiai saya malah punya perspektif lain lagi… Hal-hal seperti itu, menurut beliau, adalah sebuah bukti bahwa perputaran zaman itu ada. Makanya banyak orang pinter menggunakannya sebagi ilmu titen. Orang sekarang tidak boleh merasa lebih pinter dari orang dulu… Jangan dikira teknologi zaman sekarang lebih canggih dari teknologi zaman dulu. Orang mengira gedung pencakar langit baru ada di abad 20, padahal kaum Ad dan Tsamud udah lebih dulu membangunnya. Gitu pesen Pak Kiai.

  2. wah sebuah ulasan yang menggelitik djiwa raga seperti biasanya mas grubik

    memang kentara saling padunya biasanya di sosmed…tapi kalau di lingkup dunia nyata kayaknya malah ga setegang eyel eyelan di sosmed kan hahaha..contohnya..ya itu tadi antara yang muda membantu yang sepuh supaya bisa ikut mengoperasikan smartphone walaupun yang dibuka fb dan wa atau bagaimana cara memvideo call, dsb

    kalau didi kempot jujur SD kelas 4 aku sih sudah sering dengar klip klipnya dulu sering diputar di TVRi khusus campursarian, dan lagu alm om didilah yang menghiasi dari judul Sewu Khuto, Warunge di bukak, si kuncung, tanjung mas ninggal janji, sampai yang kekinian macam suket teki, cidro, banyu langit, ambyar, pamer bojo, dsb

    kalau lagu simple plans ini hits pas aku SMA, terutama yang aku suka sih yang judule shut up huehehe…kalau dilan jujur aku blom nonton 😀

  3. Apik dan asik pembahasannya, mas Gubrik.

    Perbedaan sudut pandang dari generasi orang tua dan generasi muda kekinian memang cukup jauh.
    Generasi oldies dilihat berseberangan dengan minat generasi jaman now.

    Untungnya ngga semua generasi oldies punya pemikiran yang kolot, kuno dan ketinggalan jaman.

    Kalau aku pribadi, senang lihat aksi kreatif seni para tik-tokers.
    Bikin ceria gitu …

  4. Yah benar. Meski terselubung, perang antar generai milenial dengan generasi kolonial (hahaaa) jelas sekali terutama soal selera musik.

    Yang saya perhatikan, generasi kolonial bisa (meski berat hati) menerima produk-produk milenial. Mungkin karena sadar kehidupan itu jalannya ke depan bukan ke belakang. Tapi, apakah generasi milenial tidak penasaran dengan apa apa yang pernah membuat generasi kolonial bahagia di waktu dulu (khususnya orang tua mereka)?

  5. Berkat tiktok, aku kadang nemu lagu lawas yang enak dan udah dilupakan banyak orang.

    Berkat tiktok, aku jd tau kpop, walau cuma bbrp detik.

  6. begitu juga soal teknologi.. teknologi RISC yang dulu ditinggalkan, kini naik lagi sejak digunakan sama Raspberry Pi dan prosesor ponsel (ARM).. kini setelah Apple mengeluarkan prosesor barunya, yang berbasis ARM (RISC), dunia teknologi akan menjadi menarik lagi..

Tinggalkan Balasan ke sunarno Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: