Formal dan informal

Pandemi melahirkan resesi. Yang namanya resesi ya kondisi ekonomi jadi lebih sulit. Imbas dari beratnya ekonomi di masa pandemi adalah dirumahkannya pekerja atau pegawai di berbagai perusahaan.

Pekerjaan formal berhenti, tapi hidup masih harus terus berjalan. Banyak orang kemudian memutar otak, mencari cara untuk bisa bertahan hidup. Dari semula bekerja di sektor formal mereka kemudian beralih ke sektor informal.

Sektor informal kalau kata wikipedia adalah sektor ekonomi yang terdiri atas unit usaha berskala kecil, yang memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa, yang di negara-negara sedang berkembang, tumbuh sebagai akibat laju pertambahan angkatan kerja yang tinggi, serta ketidakmampuan sektor formal menyerapnya.

Informal tentu merupakan kebalikan dari formal, sama lah kayak abnormal yang merupakan lawan kata dari normal atau softcore yang beda dengan hardcore

Secara ekstrem, formal itu dapat berarti kaku dan penuh aturan sedangkan informal sebaliknya, lentur dan sangat longgar aturan.

Kalau dipikir-pikir, fitrah manusia itu cenderung lebih senang ke yang informal dalam perilakunya. Dalam susasana formal pun pasti lah ada waktu untuk sejenak nginformal. Dalam bekerja formal keseharian di kantor, gak mungkin lah dalam 8 atau 10 jam itu kita bertingkah formal terus. Ada kalanya kita ghibahin si anu yang sedang anu, ada kalanya kita bercanda dengan rekan kerja. Ada kalanya juga curi-curi waktu bikin status alay di medsos atau buka online shop nyari ini itu…

Walau semua orang cenderung suka melakukan berbagai hal secara informal tapi ya kita semua perlu ada aturan formal. Kenapa, ya karena kita tidak “secerdas itu”, juga tidak “sebijaksana itu”.  Aturan formal itu lalu diperlukan untuk membatasi orang untuk tidak melakukan hal yang dianggap merugikan si pembuat aturan orang lain…

Konon, dalam faham anarkisme dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk berakal budi yang bisa mengatur dirinya sendiri dalam segala hal dan tidak perlu diatur-atur sedemikian rupa.  Jadi ya, ketika semua orang sudah mapan secara ekonomi dan  sudah “secerdas dan sebijaksana itu” maka tidak diperlukan aturan apa pun. Yang ada adalah dunia tanpa aturan karena tanpa diatur pun manusia sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ya.., terlalu utopis memang.

Dari filsafat anarkisme tadi dapat diartikan bahwa sebenarnya, bekerja di sektor informal secara filosofis adalah saat yang tepat untuk menjadi manusia dewasa yang “secerdas dan sebijaksana itu”.

Mbahas filsafatnya dikit saja, puyeng nanti saya kalau dilanjutkan…

Ya.., setidaknya, dalam sektor informal, regulator kedisiplinannya adalah diri sendiri. Ya, sama lah dengan nulis blog ini, gak ada deadline aturan ketat posting harus berapa kali seminggu. Aktif tidaknya sebuah blog tergantung si pemiliknya meregulasi dirinya sendiri untuk disiplin dalam menyediakan waktu dan pikiran untuk membuat konten.

Self regulasi, kemampuan mendisiplinkan diri sendiri yang dilandasai oleh kebutuhan dan kesadaran pribadi adalah anarkisme yang sesungguhnya.

Tapi ya.., tidak selamanya formal dan informal itu bertentangan sepenuhnya…

Buktinya, tidak hanya mereka yang berhenti dari kerja formal saja yang mencoba mencari asa di sektor informal. Rekan kerja di kantor pun sekarang update-an status di WA, facebook atau instagram juga banyak yang berisi promosi produk yang mereka jual. Entah itu produk bikinan mereka sendiri atau re-seller dari mana.

Cara beniaga sekarang memang secara teknis jadi lebih mudah dengan adanya media sosial sehingga tidak hanya mereka yang full time pekerja informal saja yang bisa, tapi juga para pekerja formal yang juga bisa nyambi nginformal

Lalu,

Dari segi penampilan, perbedaan formal dan informal juga tampaknya mulai berkurang.

Coba kita lihat ke Bapak Presiden. Kalau ada jabatan formal yang paling formal ya Presiden donk yes. Lha pemimpin negara, membawahi semua-muanya, core of the core, top of the top

Pak Jokowi itu, rambutnya sangat formal.., saya jelas kalah jauh soal tampilan formal rambut kalau dibanding beliau. Untuk pakaian, di beberapa kesempatan belaiu sering tampil tidak begitu formal. Yang menarik bagi saya adalah soal sepatu, Pak Jokowi sering pake sepatu yang tidak terlalu formal, sneakers. Belakangan sering juga saya melihat pejabat lokal yang nyenikers ala Pak Jokowi ini.

Konon juga, di banyak perusahaan besar saat ini banyak yang membuat desain pekerjaan menjadi lebih informal. Desain perkantoran modern di beberapa tempat sekarang sudah banyak yang menjauh dari kesan formal yang kaku…

Tapi ya, soal kerja formal dan informal, pada akhirnya yang terpenting adalah produk akhir yang dihasilkan, manfaat dari pekerjaan itu, bagi orang lain maupun diri sendiri.

Jadi ya, buat anda yang sekarang sedang beralih pekerjaan dari bekerja formal ke sektor informal ya, good luck lah…

14 respons untuk ‘Formal dan informal

Add yours

  1. masalahnya, kadang dari kulit kesannya formal, tapi pas dikerjain atau isinya malah begundal.. sementara yang kulitnya kayak begundal, tapi justru bisa menghasilkan barang mahal..

    sepakat bahwa yang dinilai adalah hasil. karena kalo proses doang kagak ada hasil ya, buat apa..

  2. mau formil maupun informil yang jelas sik digolei tetep duite ben metu ya mas grubik wekekekk

    karena klo informal tok memang bisa dijalankan hanya dan hanya jika keadaan sudah sangat ideal mencapai kemapanan tertinggi sehingga pede saja golek panguripan di sektor ini…tapi jika belom memang sektor formal masih dijadikan jujugan paling masuk akal hehehe, meskipun di sela sela waktu disambi dengan ghibahin si anu, nulis status di medsos dan lain lain hahhahahah…informal nyempil dikit di jam formal

    #quote of the day dari post ini adalah…“secerdas dan sebijaksana itu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: